Pendidikan Keluarga, Pencegahan Seks Bebas

Mungkin Anda sering melihat banyak wanita zaman sekarang memakai pakaian serba minimalis. Mereka berpakaian, namun jelas terlihat bagian tubuh yang seharusnya ditutupi.

Padahal esensinya, tujuan berpakaian itu menutup aurat. Namun seiring perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar yang masuk ke dalam negeri, membawa banyak pengaruh terhadap gaya berpakaian zaman sekarang.

Terlebih lagi yang menjadi korbannya adalah kalangan remaja yang jiwanya masih sangat labil dan mudah dipengaruhi. Dengan mudahnya mereka terbawa lingkungan dan pergaulan. Apalagi bagi mereka yang kurang perhatian dalam keluarga dan minim pengetahuan agama.

Bagi sebagian remaja putri, berpakaian serbaminim membuat mereka lebih percaya diri, merasa cantik dan senang menjadi pusat perhatian. Padahal tanpa mereka sadari, hal tersebut dapat mengundang kejahatan dan keburukan bagi diri mereka. Salah satu bahaya yang mengancam adalah terjerumusnya remaja dalam pergaulan seks bebas.

Tidak seperti dahulu, remaja putera dan puteri yang sedang berduaan merupakan hal tabu. Berbeda dengan zaman sekarang, sering sekali sijumpai sepasang remaja putera dan puteri memadu kasih di tempat-tempat umum. Tanpa rasa malu mereka mengumbar kemesraan mereka di depan publik.

Terlebih mereka sering ditemui di tempat-tempat yang kurang penerangannya. Apa yang mereka lakukan di sana? Apakah orang tua mereka tahu? Bayangkan perasaan Anda jika sebagai orang tua yang mendapati anak Anda seperti itu. Perilaku remaja seperti itu memang mengkhawatirkan.

Tanpa disadari, beberapa remaja zaman sekarang sudah terjerumus dalam lorong hitam yang disebut “pergaulan bebas”. Mereka bergaul dengan lawan jenis sesuka hati mereka dan tanpa batasan. Bahkan sampai ada yang melakukan hubungan suami istri di luar nikah.

Banyak remaja putri yang sudah hilang kesucianya sejak bangku sekolah. Malah remaja-remaja tersebut ada yang menjadikan seks barang dagangan hanya untuk memperoleh uang jajan lebih. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh BKKBN menunjukkan bahwa sekitar 50 % remaja sudah tidak perawan sejak di bangku sekolah.

Di antaranya adalah, Jabodetabek 51 %, Surabaya 54 %, Bandung 47 %, dan Medan 52 %. Tentu saja orang tua mereka tidak tahu perbuatan anaknya sampai terjadi kecelakaan (menurut mereka) yang menyebabkan kehamilah yang tentunya di luar nikah. Saat ini terjadi, mereka hanya bisa menangis dan menyesal dengan setumpuk perasaan bersalah kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah dicorengkan nama baiknya.

Atau mereka yang tidak mau kehamilannya terendus oleh keluarga dan masyarakat, memilih untuk melakukan sebuah dosa besar lagi dengan menggugurkan janinnya. Mendengar maraknya seks bebas di kalangan remaja memang membuat kita mengelus dada.

Apa sudah separah ini kondisi penerus bangsa kita? Sebenarnya siapa yang memiliki kontribusi terbesar dalam hal ini? Remaja memang mudah sekali terbawa arus apabila tidak dibekali dengan pengetahuan moral dan agama yang cukup. Dengan mudah mereka terbawa lingkungan sekitar mereka. Anda sebagai orang tua atau calon orang tua pastinya resah dengan masa depan anak Anda.

Mengingat keluarga adalah lingkungan terdekat anak dan keluarga memberikan kasih sayang yang paling tulus dibanding siapapun, keluarga merupakan barisan terdepan dalam memerangi seks bebas di kalangan remaja. Keluarga harus memberikan kontribusi terbesar dalam mengontrol para remaja. Banyak kasus penyebab terjadinya seks bebas di kalangan remaja berawal dari lingkungan keluarga yang broken home. Kedua orang tua yang sibuk bekerja sehingga anak terlantar, atau orang tua yang mementingkan kesenangan dirinya sendiri tanpa memperdulikan keadaan anak.

Merasa tertekan dengan keadaan rumah yang berantakan dan merasa kurang mendapatkan perhatian dari keluarga, membuat anak mencari perhatian dari tempat lain sampai akhirnya terjerumus pergaulan yang salah. Jangan sampai hal tersebut terjadi dalam keluarga dan anak kita. Lindungi anak Anda semaksimal mungkin tanpa over protective yang bisa menyebabkan anak tertekan. Cukup dengan kenali siapa anak Anda dengan cara belajar untuk menjadi sahabat bagi anak Anda tanpa menurunkan wibawa anda sebagai orang tua.

Menjadi sahabat untuk anak Anda memang tidak mudah. Terkadang Anda harus rela menurunkan ego Anda untuk menerima kesalahan Anda. Cobalah untuk mendengarkan pendapatnya dan berikan arahan dengan cara yang halus apabila anak Anda salah.

Anda harus mencoba toleransi dengan keinginan positif anak Anda walaupun Anda tidak terlalu setuju. Hargai mereka seperti Anda menghargai sahabat Anda. Dengan Anda berperan sebagai sahabat, anak akan merasa nyaman dan menghargai nasihat-nasihat Anda.

Untuk menghindari lingkungan yang salah, Anda harus mengontrol lingkungan anak Anda. Kenalilah pergaulan anak Anda untuk bisa mengontrol pergaulannya. Bersikaplah friendly terhadap teman-temannya sehingga Anda tahu siapa yang baik untuknya dan siapa yang tidak baik. Perhatikan sesuatu yang ditonton dan dibacanya.

Mudahnya akses informasi menyebabkan orang tua kewalahan mengawasi anak. Pintar-pintarlah mencari tahu apa informasi apa saja yang telah diserapnya dan pastikan anak Anda memandangnya dalam segi positif dan negatif dalam menyaring informasi tersebut. Berikanlah pandangan kita terhadap informasi tersebut tanpa kesan menyudutkan.

Hal terpenting yang harus dilakukan keluarga adalah memberikan pendidikan moral dan agama sejak dini kepada anak. Penentangan terhadap seks bebas jelas ditekankan oleh setiap agama. Untuk itu anak harus dibekali pengetahuan agama sejak dini.

Ciptakan suasana yang religius di rumah sehingga anak beranjak dewasa (remaja) telah memiliki bekal pengetahuan agama yang cukup. Remaja yang taat akan selalu takut terhadap Tuhan, merasa selalu dalam pengawasannya sehingga memiliki pengendalian diri yang baik.

Berbekal pengendalian diri yang kuat, tidak akan mudah dipengaruhi teman-temannya yang salah pergaulan sehingga terjaga dan tidak terjerumus. Sedangkan pendidikan moral harus ditanamkan sejak dini agar mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana perilaku bermoral dan mana perilaku amoral. Beritahu bagaimana seharusnya bergaul dengan lawan jenis, bagaimana bersikap di tempat umum, bagaimana menghargai orang lain.

Pendidikan agama dan moral tidak hanya secara lisan saja dilakukan, tapi keluarga (orang tua) harus menerapkan dalam diri sendiri terlebih dahulu sebagai refleksi terhadap anak. Ajaklah anak beribadah bersama dan jelaskan tujuan beribadah agar anak paham secara mendalam dalam hatinya.

Ceritakanlah kebesaran-kebesaran Tuhan untuk menumbuhkan kecintaan dan ketakwaan anak. Jadilah tauladan yang menampilkan moral-moral positif dalam sehari-hari. Jika anak salah, beritahu kalau dia salah dan tunjukkan bagaimana seharusnya. Dengan demikian diharapkan terbentuknya remaja yang memiliki sifat dan sikap yang baik. Pendidikan moral dan agama tidak terlepas dari pengawasan orang tua agar anak tidak miskonsepsi terhadap agama dan moral yang diajarkan.

Dengan demikian diharapkan anak terhindar dari pergaulan bebas ketika remaja. Dengan berbekal kecintaan dan ketakwaan terhadap Tuhan, kecintaan kepada orangtua dan keluarga serta berbekal nilai-nilai moral sejak dini, diharapkan dapat menghindari pengaruh-pengaruh negatif yang dapat menjerumuskan mereka.

Oleh karena itu bagi orang tua, kenalilah, sayangi dan kendalikan anak sebelum semuanya menjadi terlambat. Berikan pendidikan di dalam keluarga dengan penuh kasih sayang. Jangan biarkan para remaja penerus bangsa kita termakan oleh zaman dan menghancurkan masa depannya sendiri. (*)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s