Ratusan Juta Anak Kota Hidup Miskin

Laporan Unicef “The State of the World’s Health 2012”, yang dirilis Selasa (28/2/2012), mengatakan, ratusan juta dari lebih satu miliar anak kota atau hampir separuh jumlah anak di dunia, katanya, tumbuh besar tanpa air bersih, listrik dan pendidikan; layanan dasar serta peluang bagi masa depan. Lebih separuh dari tujuh miliar orang di dunia sekarang hidup di kota besar dan kecil.
Kesulitan hidup anak-anak di daerah perkotaan seringkali diselimuti oleh kekayaan yang relatif dialami anak lain, kata dana PBB tersebut. Laporan itu menyatakan meskipun banyak anak yang hidup di kota besar dan kecil mendapat layanan dasar, satu dari tiga warga kota hidup di daerah kumuh. Di Afrika, bagian tersebut bertambah jadi enam dalam 10.
Cakupan vaksin global biasanya meningkat, tapi tidak di daerah kumuh, sehingga menambah besar kerentanan yang dihadapi rakyat di sana, kata laporan itu. Anak-anak daerah kumuh juga menghadapi kelaparan dan kekurangan gizi, dan gizi buruk diduga menjadi penyebab sepertiga dari semua kematian pada anak yang berusia di bawah lima tahun.
“Berdesakan dan kondisi yang tidak sehat memudahkan penyebaran penyakit –terutama radang paru-paru dan diare, dua pembunuh utama anak yang berusia di bawah lima tahun di seluruh dunia,” kata laporan tersebut. “Penyebaran campak, tuberculosis dan penyakit lain yang bisa dicegah oleh vaksin juga lebih sering terjadi di daerah ini, tempat kepadatan penduduk sangat tinggi dan tingkat imunisasi rendah.”
“Bahkan anak yang kelihatannya memperoleh cukup makanan –mereka yang menerima kalori yang layak guna menggerakkan kegiatan harian mereka– dapat menderita ’kelaparan tersembunyi’ akibat kekurangan gizi penting,” katanya.
Selain kesehatan buruk, menurut laporan tersebut, anak-anak yang tinggal di daerah kumuh menghadapi kemungkinan kecil untuk bisa bersekolah. “Terutama di daerah kumuh, tempat pilihan pendidikan masyarakat sangat langka, banyak keluarga menghadapi pilihan antara mengeluarkan biaya agar anak mereka bisa mengenyam pendidikan di sekolah swasta yang berjubel dengan kualitas rendah atau mengeluarkan anak mereka dari sekolah,” katanya.
“Bahkan ketika pendidikan gratis, biaya tambahan –untuk seragam, keperluan klas atau biaya ujian, misalnya– seringkali cukup tinggi sehingga menghalangi anak mengenyam pendidikan.”
Banyak anak, yang tak bisa sekolah, akhirnya “bekerja” di jalanan dan banyak di antara mereka menjadi anggota gerombolan penjahat agar mereka bisa memiliki teman dan mendapat uang. Sebagian dari mereka akhirnya diselundupkan.
“Setiap saat, hampir 2,5 juta orang dipaksa bekerja akibat penyelundupan –22 sampai 50 persen dari mereka anak-anak,” kata Unicef, sebagaimana dikutip Xinhua. “Penyelundupan anak seringkali tersembunyi, dibantah atau diabaikan, sehingga ada kesulitan untuk memperoleh data yang lengkap.”
Unicef menjelaskan di dalam laporan tersebut sebagian bentuk penyelundupan anak “terutama terjadi di daerah perkotaan”, seperti menjadi pemuas nafsu, yang mengincar anak yang tinggal dan bekerja di jalanan. Namun banyak anak juga diselundupkan dari daerah pedesaan ke kota.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s